Kali Baru Timur

Kali Baru Timur adalah sungai yang mengalir di kawasan Jawa Barat dan Tempat Khusus Ibukota Jakarta dan menjadi sebelah dari dari Pengontrolan Banjir dan Koreksi Sungai Ciliwung Cisadane. Merupakan satu saluran irigasi berupa sungai buatan yang didirikan berbarengan dengan pintu air Katulampa untuk mengalirkan sebagian air sungai Ciliwung dari Bogor sebelah timur ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan Raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sampai bermuara di tempat Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sungai ini adalah satu dari dua saluran yang digali dari hulu sungai Ciliwung di Katulampa dan Kali Cisadane, pada abad ke-18, atas intruksi Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem van Imhoff yang merancang kanal itu sebagai jalur pengangkutan hasil penuaian dari pedalaman Bogor menuju Batavia, di mana jejak proyek transportasi air itu masih tersisa, yakni Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur. Walaupun Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur adalah sungai buatan atau tidak natural, kedua saluran ini menjadi sebelah dari 13 sungai yang mengalir melewati  Ibu Kota.

Kalibaru adalah satu wilayah yang dahulunya mempunyai hubungan dengan kegiatan para nelayan di Dermaga Tanjung Priok. Pada periode 1960-an, tempat itu sebagai dermaga ikan yang termasuk pindahan dari dermaga ikan Kali Kresek Lahoa yang ditutup pada 1967. Di dermaga itu dilaksanakan pendaratan, pelelangan, rombak muat ikan dan pemasaran ikan. Tempat itu terdiri dari dua kawasan yaitu Kalibaru Timur dan Kalibaru Barat.

Pada waktu kejayaan jaring pukat macan (trawl), dermaga itu termasuk ramai kegiatannya, sebab posisinya berdampingan dengan dermaga kayu, juga berhubungan proyek peningkatan dermaga Tanjung Priok. Menurut SK Gubernur DKI No.268/1977 tertanggal 8 Mei 1977, kegiatan dermaga itu bagi kapal ikan trawl ditutup. Sementara itu, untuk tipe perahu nelayan yang secara bertahap semuanya dipindahkan ke Muara Angke, serta kegiatan dermaga ikan Kalibaru selesai pada 1988. Kemajuan setelah itu, Kali Baru merupakan dermaga yang memfasilitasi prasaran khusus untuk rombak muat kayu di Jakarta, yang eksistensinya di bawah manajemen Ditjen, Ditjen Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan. Jadi, nama Kalibaru berasal dari nama dermaga ikan tempo dahulu.

Pada tahun 1739, pemerintah kolonial Belanda atas intruksi Gubernur Jenderal Van Imhoff membikin Oosterslokkan (“Selokan Timur”) yang berguna untuk irigasi dan pengangkutan benda dari pedalaman. Saluran dibuka tahun 1739 dan kelar 14 tahun lalu, yakni pada 1753. Upaya memanfaatkan selokan timur sebagai sarana pengangkutan benda batal sebab membutuhkan bnyak pintu air untuk menahan. Selokan timur juga batal dipakai sebagai kanal pelayaran sebab terdapat kebocoran yang susah diselesaikan. Walhasil, selokan itu difokuskan untuk irigasi pertanian saja.

Selokan timur mempunyai tiga pintu air untuk mengairi ladang di tempat hulu di Ratim, Cibalok, dan Cibanon. Suplaian air di selokan itu juga ditambah dengan pembuatan tahan Katulampa di Buitenzorg (Bogor) tahun 1749. Selokan itu juga mengairi ladang seluas 9.075 hektar di tanah-tanah partikelir di sebelah timur Ciliwung.

Tahun 1753, Oosterslokkan diperpanjang sampai ke kanal timur di Weltevreden (Lapangan Banteng), bersatu dengan kanal prapatan kemudian diketahui dengan nama Kali Baru. Selokan timur beberapa kali rusak dan memerlukan ongkos besar untuk koreksi. Kemudian tahun 1776, Van Imhoff mengusulkan untuk meneliti sebuah kanal lagi dari aliran Kali Cisadane untuk dialirkan ke Kali Ciliwung. Kanal ini lalu diketahui dengan Westerslokkan atau “Selokan Barat”, dipanggil Kali Baru Barat saat ini. Kalau selokan timur digali dari Katulampa sampai Meester (Jatinegara) dan memperoleh suplaian air tambahan dari Kali Cikeas dan dialirkan sampai ke Kali Sunter, maka dari itu Westerslokkan atau “Selokan Barat” mengalir dari Kali Cisadane, melintasi Kali Cipakancilan, masuk ke selokan barat (Kali Baru Barat), Matraman (Kali Minangkabau), dan masuk ke Kanal Banjir Barat.

Hasil penuaian ladang yang dialiri Kali Baru Barat dan Timur amat keren. Di distrik Kebayoran, hasil ladang rata-rata 31 pikul per pundak (berimbang 0,7 hektar). Di Cilebut, Citayam, Depok, Gubuk Cina, Tanjung Barat, dan Gubuk Labu hasil padi per pundak antara 15 pikul dan 35 pikul. Sementara di tempat yang dialiri Kali Baru Timur di Cibinong, Tapos, Cilangkap, Cimanggis, Cilodong, Tanjung Timur, Kampung Makasar, Cililitan, Cawang, Kemayoran, Gedong Rubuh, dan Kelapa Gading, hasil padi berkisar antara 15 pikul dan 30 pikul per pundak.

Tertulis semenjak tahun 1960-an, Kali Baru Timur berkontribusi pada banjir di Jakarta sebelah timur yang mencakup  kawasan Sungai Sentiong Tanah Tinggi, Sumur Batu, Senen, Kali Baru Timur, dan Percetakan Negeri.

Tahun 1970-an, air bening mengalir di Kali Baru Timur atau selokan timur (Oosterslokkan) dan batu-batu cadas putih tampak di asas kali sebab aliran air yang jernih. Sisi {kiri} dan kanan kali dipagari tumbuhan kecapi, jamblang, kecut jawa, dan kenanga. Ikan gabus, tawes, lele, mas, dan udang air tawar hidup sehat di aliran kali yang mengalir di pinggir Jalan Raya Bogor itu. Anak-anak bahagia berenang di kali dan bermain seluncur dari Gubuk Gede sampai ke pintu air (Kampung Gedong). Air Kali Baru Timur pun menjadi barokah bagi masyarakat yang dilintasi. Bagi warga Gedong, selain untuk mengairi ladang, air dipakai untuk mandi, membasuh pakaian, pun untuk air minum. Sebab jabatan kali cukup dalam, warga membikin tangga berundak dari bambu.

Suasana asri itu kemudian berubah drastis pada 1975. Pabrik-pabrik mulai menyerang wilayah di sepanjang Jalan Raya Bogor itu. Pabrik menyerap bnyak pegawai dari kampung-kampung di Jawa. Laju urbanisasi pun tidak tertahan. Ladang-sawah mulai beralih kegunaan menjadi permukiman warga. Air kali kemudian semakin kotor dan menghitam. Pabrik buang limbah di kali. Warga mengotori aliran kali dengan pipa pembuangan kotoran dan limbah air. Saat ini, Kali Baru Timur menjadi selokan pembuangan dengan air memiliki warna cokelat sampai kehitaman.

Pada tahun 1990, air Kali Baru Timur masih mengairi areal persawahan yang berlokasi antara Bogor dan Jakarta seluas 2.414 Ha, namun pada tahun 2009 di Bogor dan Cibinong cuma tersisa 72 Ha, sedangkan di Jakarta telah tidak terdapat lagi.

Warga yang tinggal di kanan {kiri} saluran di tempat perbatasan DKI Jakarta dan Kota Depok, sampai tempat Cijantung, Cililitan, Cawang, pun Cipinang, biasanya mengetahui dan menyebut saluran ini sebagai Kali Baru Timur. Akan tetapi, sampai di tempat Matraman atau Pramuka, warga menyebutnya dengan nama bermacam-macam. Warga di Kelurahan Senen, Jakarta Central, contohnya, terdapat yang menyebutnya Kali Paseban, Kali Bluntas, Kali Sentiong, atau Kali Murtado. Nama-nama itu mengacu pada nama kampung atau jalan di sekitar saluran. Warga pun tidak bnyak mengetahui tentang sejarah dan kegunaan kali itu. Warga Kelurahan Senen, Jakarta Central, mayoritas sama bangeet tidak mengetahui Kali Baru Timur, dan biasanya menyebut sebagai Kali Sentiong. Di wilayah ini, aliran Kali Baru Timur pastinya akan berjumpa dengan Kali Sentiong sblm masuk ke Kali Sunter.

Kali Baru Timur tergolong ke dalam Metode Aliran Kawasan Timur DKI Jakarta, bersama Kali Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat dan Cakung, yang memiliki debit masuk di hulu sebanyak 139 m3/sec dan di hilir sebanyak 237 m3/sec, serta debit keluar di hulu sebanyak 39 m3/sec dan di hilir sebanyak 40 m3/sec, mencakup  lebih kurang 21 anak sungai.

Diperhatikan pada tahun 2016 bahwa di sepanjang Pasar Rebo, Jakarta Timur, keadaan Kali Baru Timur masih asri dengan turap natural dan beronjong batu kali. Terdapat jalan inspeksi di sepanjang kali. Tebing kali juga bnyak ditanami pohon-pohon hijau. Di sepanjang kali berjejer kios-kios, toko, bengkel, pasar, mal, dan rumah makan. Sampai di Cililitan, aliran kali menyempit, pun mengalir di bawah salah satu central perbelanjaan di Cililitan. Aliran seolah terputus sebab tersembunyi di bawah bangunan Central Grosir Cililitan. Di permukiman di belakang central perbelanjaan ini, kali “muncul” lagi, seolah bersumber dari dinding mal.

Selain di central perbelanjaan itu, aliran Kali Baru Timur tersembunyi di bawah simpang susun Cawang, Jakarta Timur. Lebar saluran menyempit selepas tempat penyaringan sampah di sisi selatan simpang Cawang, melalui kolong, dan keluar di sisi utara menuju tempat Cipinang, kemudian ke Matraman, Salemba, Johar Baru, sampai ke Kemayoran. Di Kemayoran, Kali Baru Timur berjumpa dengan Kali Sentiong, kemudian mengalir ke utara dan berjumpa dengan Kali Ancol sblm lepas ke Laut Jawa.

Sungai ini mengalir di kawasan barat laut pulau Jawa yang beriklim hutan hujan tropis (kode: Af berdasarkan pembagian iklim K√∂ppen-Geiger). Temperatur rata-rata setahun sekitar 27 °C. Bulan paling panas adalah Maret, dengan temperatur rata-rata 30 °C, and paling dingin Mei, sekitar 26 °C. Curah hujan rata-rata tahunan adalah 3674 mm. Bulan dengan curah hujan paling tinggi adalah Desember, dengan rata-rata 456 mm, dan yang paling rendah Sept, rata-rata 87 mm.

Kali Baru Timur merupakan salah satu sungai yang berpotensi membikin banjir di Jakarta, sebab acap kali tersumbat timbunan sampah. Tim tukang selam Komando Armada RI Wilayah Barat (Koarmabar) yang sehari-hari bekerja di Instansi Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmabar pernah diterjunkan ke lokasi penyumbatan gorong-gorong untuk membuka penyumbatan Sungai Kali Baru Timur, Cawang sebab banjir di kawasan itu pada bulan Mei 2010. Para tukang selam Koarmabar bisa melaksanakan pembersihan secara bertahap masuk kedalam gorong-gorong dan sudah sukses menerobos sepanjang 70 Meter dari 180 meter panjang gorong-gorong yang tersumbat oleh penumpukan sampah pelbagai tipe yang membungkam aliran air sungai itu dengan keadaan air yang amat kotor dan pekat sebab pencemaran. Aktivitas penyelaman itu terfokus pada gorong-gorong yang menjadi tempat saluran air sungai dari Katulampa Bogor menuju ke pintu 11 lalu terbagi menuju hilir ke Kali Sentiong dan Ciliwung.

Koordinat: 6°06′S106°48′E / 6.10°S 106.80°E / -6.10; 106.80

Map of rivers and canals in Jakarta 2012.jpg

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url