Ci Durian

Indonesia

Jawa

Tanara
6°01’27″S106°24’42″E / 6.0242°S 106.4117°E / -6.0242; 106.4117Koordinat: 6°01’27″S106°24’42″E / 6.0242°S 106.4117°E / -6.0242; 106.4117

Ci Durian di GEOnet Names Server

Ci Durian (Sungai Durian) atau Ci Kandi[a] adalah satu sungai di pulau Jawa, Indonesia, yang melewati  Provinsi Jawa Barat dan Banten. Sungai itu berawal di pegunungan di selatan dan mengalir ke arah utara serta bermuara di Laut Jawa.
Delta sungai, kanal kini, sudah lama dipakai untuk ladang dan untuk periode itu juga dipakai untuk perkebunan tebu.
Luas irigasi yang berguna memalingkan air dari sungai ke dalam sebuah metode kanal pada tahun 1920-an, akan tetapi karya-karya ini tidak kelar dan menderita dari kelalaian di waktu pasca-kolonial.
Program diciptakan pada tahun 1990-an untuk merehabilitasi irigasi dan menahan sungai untuk memfasilitasi air untuk proyek-proyek industri, dengan sokongan Belanda dan Jepang, tetapi ini dibatalkan oleh pemerintah Indonesia.

Ci Durian naik di lereng 1929 meter (6329 ft) tinggi Gunung Halimun dan mengalir ke arah utara melalui kawasan Banten.
Mencapai pantai ke arah timur dari Kota Banten.
Sungai-sungai di provinsi Banten, provinsi paling barat pulau Jawa, berjalan kira-kira {sejajar} satu sama lain.
Yang utama adalah Peteh, yang dipanggil Banten di hilir dket Kota Banten; Ujung, yang memasuki laut di Pontang; Durian, yang memasuki laut di Tanara, Manceuri; dan Sadane, yang naik di kawasan pegunungan Periangan dan pada tahun 1682 membentuk perbatasan antara kawasan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan Batavia (saat ini Jakarta). Sungai Durian, Manceuri, dan Sadane mengalir melalui Daratan Tangerang.
Kipas angin sungai keluar ke delta di dket pantai.
Terdapat rawa-rawa antara mulut Durian di Tanara dan mulut Sadane.

Penduduk absah dari mulut sungai Ci Ujung, Ci Durian, dan Ci Banten itu orang Sunda.
Pada tahun 1682 terdapat ladang di sebelah hilir dari Ujung dan Durian.
Sesudah 1700 produksi gula di Banten dihidupkan kembali, terutama di rawa Ci Durian delta, yang mempunyai air yang diperlukan untuk menanam tebu.
Proyek ini diadakan oleh pembisnis Cina Limpeenko, seorang pedagang yang tinggal di Batavia dan secara teratur mengunjungi Kesultanan Banten, membawa kain megah untuk mahkamah Sultan.
Limpeenko mendapatkan jumlah sewa dari sultan pada tahun 1699.
Ketika ini tempat di mulut Durian yang masih langka penduduknya, dengan penduduk absah yang hidup oleh nelayan dan pertanian.
Langkah hidup mreka konsisten tidak berubah dengan meningkatnya produksi gula.
Pendatang baru seperti Melayu menetap tanpa persetujuan di tempat untuk berprofesi di perkebunan gula, namun sebagian besar dari angkatan aktivitas adalah Cina dari Batavia.

Pada tahun 1808 sebelah dari Kesultanan Banten ke timur Ci Durian (atau Ci Kandi) diserahkan pada Belanda.
Kawasan ini menjadi sebelah dari Provinsi Banten yang dikontrol Belanda, dan perbatasan barat didefinisikan oleh Ci Durian, yang kini dipisahkan provinsi dari Kesultanan Banten.
Pemerintah Belanda disewakan tanah di sebelah timur Ci Durian untuk pribadi orang-orang Belanda.
Sultan tituler terakhir Banten sudah dihapus pada tahun 1832, akan tetapi pada tahun 1836 pemberontakan pecah di  Ci Durian Ilir yang dimasukkan dengan paksa.
Pemberontakan lain di Ci Durian Kampungan ditekan pada tahun 1845.
Sesudah akhir pemberontakan di tempat lain di Banten pada tahun 1850 terdapat ketenangan semasa 30 tahun, ketika wabah yang menakutkan pecah, ditiru dengan musibah letusan Krakatau 1883.

Kabupaten Tjikandi pada tahun 1890 terdiri dari kepunyaan pribadi Tjikandi üdik dan Tjikandi Ilir.
Sungai itu bisa diakses oleh kapal tongkang dan kapal-kapal sungai dari mulutnya sampai Tji-Kandi-Ilir.

Daratan Tangerang masih dipegang oleh tuan tanah pribadi di awal cerita abad ke-20.
Para petani menanam beras quality rendah, sebagian besar memakai curah hujan berbasis penyimpanan air dan metode irigasi yang bertumpu pada harapan tuan tanah untuk kegunaan bagian an, dengan sewenang-wenang distribusi air. Mreka menderita kemiskinan dan kelaparan atau kekurangan pangan.

Pada tahun 1911 pemerintah kolonial mulai menyiapkan program irigasi, dan pada tahun 1914 ditetapkan bahwa pelbagai saluran di dataran seharusnya patuh pada pembelian harus untuk target ini.
Pada tahun 1919 program dikeluarkan dmana utara daratan akan diairi oleh Ci Sadane dan tempat selatan oleh Ci Durian.
Program ini diasumsikan bahwa tahan bergerak yang akan didirikan di Ci Durian di Desa Solear, tetapi sangkaan ongkos memperlihatkan itu akan lebih terjangkau untuk mendirikan tahan permanen setelah itu hulu, walaupun kanal akan menjadi lebih lama.
Tahan Asupan Sungai Ci Durian didirikan oleh Hollandsche Deton Maatschappij, yang dipuji sebab profesi yang baik pada tahun 1926.
Enam puluh tahun lalu batu itu masih dalam keadaan amat baik.
Profesi lebih lanjut menimbulkan program untuk memanjangkan kanal Ci Durian utama setelah itu timur, di seberang sungai Ci Manceuri.

Direncanakan ekstensi ke jringan irigasi Ci Durian yang tertunda di waktu pasca-kolonial, seperti koreksi untuk karya-karya yang terdapat.
Direncanakan jembatan di atas Ci Manceuri tidak kelar sampai tahun 1970-an.
Karya-karya yang terdapat tidak didirikan sampai 1988-1992.
Ketika ini tempat irigasi adalah 10.400 bouw[b], diperbandingkan dengan sangkaan sblmnya 17.000 bouw.
Selain dari batu karya-karya koreksi yang amat miskin, terutama perlengkapan baja.
Pada tahun 1989 dua laporan diterbitkan pada Ci Durian Ugrading dan Proyek Manajeman Air.Japan International Cooperation Agency (JICA) melaksanakan Ci Ujung – Studi Sumber Energi Air Terpadu Ci Durian pada tahun 1992.
Terdapat lanjutan program untuk mendirikan bendungan di dua sungai untuk memfasilitasi air untuk kemajuan industri di Bojonegara dan tempat-tempat terdekat.

Studi irigasi 1993 di Indonesia, menurut data detail dari Penataran Ci Durian dan Proyek Manajeman Air, menyimpulkan terdapat ketimpangan yang serius antara hulu dan hilir pemakai air, mendapatkan bahwa pemakai hilir kadang kala seharusnya menyapu kandungan hulu fasilitas di malem hari untuk memperoleh sementara pelepasan air.
Akan tetapi, pemerintah Indonesia membikin ketetapan mndadak untuk membatalkan proyek dan semua orang lain yang didanai oleh sokongan Belanda.

Laporan 1994 menuturkan Badan Pengontrolan Akibat Lingkungan sudah diperiksa pada limbah yang tidak diobati dibuang oleh P. T. Cantik Pulp dan Perusahaan Kertas ke Sungai Ci Durian. Mreka mendapatkan bahwa walaupun perusahaan sudah mendirikan sebuah fasilitas canggih untuk menyembuhkan air limbah, itu tidak dipakai pada malem hari, ketika limbah tidak diobati dilepaskan ke sungai.

COLLECTIE TROPENMUSEUM Auto passeert een brug over de rivier Cidurian TMnr 60016588.jpg

Java Locator Topography.png

Next Post Previous Post